Sunday, January 31, 2021

SELIMUT MALAMKU

 

CROWN GAMES
CROWN GAMES

840a - Awal berdirinya perusahaanku aku termasuk karyawan pertamanya. Pada waktu itu aku seorang karyawan sebuah pabrik pembuatan saos di kota Pekalongan, posisiku adalah sebagai supervisor bagian marketing sesuai dengan ijasahku di bidang ekonomi-akuntansi, kini pengalaman ini aku tulis aku menduduki salah satu jabatan direktur di perusahaanku. Sebagai seorang supervisor tentunya aku mempunyai beberapa staff yang sebagian besar perempuan. Dalam merekrut karyawan tentu aku yang banyak menentukan kriteria seorang calon karyawan.

Yang pertama adalah menarik, diutamakan bila cantik. Pendidikan terendah SMA, tinggi badan terendah 155 cm dan tentunya tidak terikat oleh perusahaan manapun. Mau bekerja full time bila perusahaan membutuhkan dan bersedia bertugas ke kota lain bila order berlimpah.

Kriteria itu aku kirimkan ke sebuah surat kabar terkenal dan hasilnya banyak sekali pelamar yang berminat bahkan melebihi dari kriteria yang aku butuhkan, mereka sarjana semua seperti aku. Di awal berdirinya perusahaan hanya membutuhkan sepuluh karyawan, satu diantaranya seorang laki-laki. Karyawan laki-laki aku kirim ke luar kota untuk merintis bagi masuknya order baru. Ternyata pilihanku tidak salah, karyawanku itu ternyata pandai menarik order sehingga perusahaan kebanjiran order.

Satu dari sembilan staffku bernama Shariffa dipanggil dengan Iffa. Selain cantik, kulitnyapun mulus dengan sorot mata yang menawan sehingga membuat jantungku berdegub-degub bila dekat dengannya. Dia sudah bersuami, suaminya kini tergolek lemah dirumah akibat kecelakaan yang dialaminya sehingga membuatnya lumpuh. Santunan yang diberikan dari perusahaan suaminya berkerja habis untuk berobat suaminya. Kejadian itu sudah hampir setahun yang lalu, lambat laun kondisi keuangan mereka menipis itulah yang membuatnya harus mencari kerja untuk menghidupi keluarganya, merawat suaminya diserahkan kepada ibu mertuanya. Untung mereka belum dikaruniai anak, sehingga Iffa leluasa untuk mencari kerja, meninggalkan sang suami tercinta dalam perawatan ibundanya.

Pengalaman hidupnya diceritakan kepadaku ketika kami berhenti untuk makan di rumah makan dalam perjalanan menuju ke Jogja. Hanya kami berdua, sopir yang kami pakai minta ijin karena keponakannya akan disunat. Di Jogja kami langsung menemui beberapa klien kami untuk melakukan transaksi, kalau dihitung ada puluhan toko yang berhasil kami tambah ordernya hal yang sangat luarbiasa bagi karierku.

Kami menginap disebuah losmen di sekitar daerah Maerokoco di jalan Jogja-Magelang. Mobil kijang yang kami pakai aku belokkan masuk ke halaman parkir losmen, untuk itu perusahaan mempercayakan aku membawa salah satu dari beberapa mobil nya.

"Mas satu kamar saja," kata Iffah kepadaku ketika kami hendak keluar dari mobil.

"Kenapa?" Seraya aku melirik kearahnya, tampak dia tersenyum sambil menyibak rambutnya yang tergerai.

"Biar ngirit, uang kamarnya bisa aku belikan obat untuk suamiku."

"Oke, baiklah kalau begitu istri yang baik."

"Ah, jangan begitu dong," sambil mencubit pahaku.

"Eit, jangan ketengah-tengah lho," aku menggoda.

"Ih mas nakal ah." rummy

Gurauanku yang hanya sesaat ternyata ditanggapi lain oleh Iffah, tanpa sepengetahuanku rona wajahnya berubah memerah. Wajar, hampir setahun tubuh mulus itu sudah tidak terjamah oleh suaminya. Lalu kami keluar dari mobil menuju ke resepsionis dan mendapat kamar dengan satu ranjang. Seorang belboy atau pelayan mengantar kami dan membukakan pintu.

"Masih ada yang bisa saya bantu pak?"

"Tidak," seraya aku mengulurkan satu lembar uang sepuluh ribu, "terimakasih mas" kataku.

"Saya juga terimakasih pak," kata pelayan itu seraya menerima uang yang aku sodorkan.

"Aku mandi dulu ya?"

"He-eh," gumamku sambil mengeluarkan beberapa pakaian untuk diletakkan kedalam lemari.

Rencananya kami di Jogja selama dua hari. Ketika aku menoleh kearah kamar mandi, ternyata pintunya tidak ditutup selang beberapa saat kemudian terdengar dia memanggilku,

"Mas"

Berlahan aku beranjak kearah suara dari dalam kamar mandi, 'DEG..!' jantungku serasa mau meloncat ketika aku sampai di pintu tampak Iffah hannya mengenakan beha dan celana dalam berwarna merah saja. Mataku melotot memandang lekat-lekat kepayudaranya yang masih tertutup beha ukuran 34, menggantung indah. Sementara pelan mataku menyapu kebagian bawah tampak selangkangannya menonjol berbalut celana dalamnya. Dibaliknya tersebunyi rambut-rambut tebal dan dengan malu-malu Iffah menggeser salah satu kakinya sehingga tampak belahan tempeknya samar-samar.

"Mandi bareng mas"

"Y-Ya," kataku gugup.

"Koq diem saja, lepas dong."

Seperti kerbau dungu, aku melepas pakaian yang aku pakai.

"Ah-h!"

Iffah terpekik ketika aku melepas celana dalamku, tampak kontolku tegak menjulang. Suatu anugerah yang tidak aku bayangkan, aku memiliki kontol berukuran long size. Mendekati angka 19.5 cm dari pangkal atasnya ditambah bundar bagian bulat kepala kontolku yang aduhai. Rambut didadaku yang merambat turun menghiasai seputar pangkal kontolku. Kepalanya yang bundar besar tidak dapat menutupi bahwa memang aku memiliki kontol seukuran pisang ambon besar, sungguh duakali ukuran standar yang tinggi badanku 170 cm dan berat 62.5 kg.

"Ahhh..!" Iffah bergumam lirih didalam kamar mandi berukuran 2x2 meter ketika aku masuk mendekat.

"Segede ini mas punyamu," mukanya memerah menahan nafsu birahi, napasnya mulai memburu memperlihatkan sepasang payudaranya yang berukuran 34B bergetar-getar. Terasa kelembutan telapak tangannya ketika dia menggenggam batang kontolku, "tidak sebanding dengan suamiku, hhmm.." kedua tangannya meremas lembut hingga bagian kepala kontolku.

"Bagaimana?"

Sambil aku mengusap rambutnya, sementara pandangan Iffah tidak lepas dari kontolku yang dirmasnya dengan lembut.

"Gedhee sekalee gito loh!"

Aku mengangkat wajahnya, dia menatap tajam kearahku. Api birahi terlihat dari sorot matanya yang nanar tajam menusuk kedalam kornea mataku. Aku tidak perduli, aroma parfum dan dan bau keringat sudah bercampur jadi satu. Untung saja mobil yang kami pakai ber-AC dan berparfum sehingga kami tidak bermandi keringat ketika kami putar-putar Jogja untuk menemui klien kami.

Sekian lama semenjak suaminya menderita lumpuh, Iffah menghabiskan hari-harinya untuk mengurus suaminya. Kelumpuhan yang menimpanya membuat suaminya tidak mempu menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dan laki-laki. Kini, kerinduan akan sentuhan seorang laki-laki menohok jantungnya. Iffah kuatir dan takut keluguan dan kealimanku dimatanya akan menolak ajakannya. Wow justru sebaliknya, dengan semangat juang tinggi dan birahi yang meledak-ledak aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Hhmm.. ssstttt.." aku menjatuhkan bibirku dan mendapat sambutan hangat dari Iffah. Sebentar dia melepaskan genggaman kontolku dan melingkarkan naik kedaua tangannya kearah leherku. Kedua tanganku merayap diseputar punggungnya sementara bibir kami saling berpagutan, lidah kami saling meliuk-liuk. Sementara kontolku yang besar menekan lembut selangkangannya.

"Hm-mmh...!!!"

Iffah melenguh, napasnya terasa hangat menerpa ujung hidungku ketika aku menekan pinggulku ke selangkangannya sehingga batang kontolku menekan permukaan tempeknya. Pandangannya gelap, besar, sangat besar kontol ini pikirnya penuh birahi. Kontolku meliuk-liuk dalam jepitan pinggulku dan selangkangannya membuat keluar cairan bening dari kepala kontolku.

Kami terus berpagutan, lidah kami meliuk-liuk penuh nafsu, sementara air liurku dan air liurnya sudah bersatu membasahi kedua mulut kami. Tak ketinggalan kontolku melesat kesana-kemari di permukaan celana dalamnya. Aku berusaha melepas tali beha yang dipakainya, tersibak sepasang payudaranya dan aku meremasnya dengan lembut. Ciumanku merayap turun kepermukaan puting susunya yang aku jepit menggunakan sepasang bibirku.

"Sssttt..tt..mmaa... sss.." dia mencengkeram kedua pundakku.

Sementara bibir dan hidungku asyik di sepasang payudaranya, telapak tangannku berlahan menarik turun celana dalamnya. Iffa hanya bersandar pada bak air kamar mandi dengan muka dan mulutnya mendesah.

"Terruss.. sss... masss..!!"

Ciumanku merayap turun, cairan keluar dan meyayap turun dari liang vaginanya ketika lidahku mulai bermain di klentitnya.

"Ah..hh..nikk..kk..mm..aat..!!!"

Iffah terdongak seraya sedikit membungkuk manakala klentitnya dengan menggunakan bibirku aku tarik dengan lembut keluar lalu ujung lidahku menjilat sambil memutar-mutarnya.

"Pppp.. fff... fff....!!!"

Crot..crot..crot...!! Iffah terkulai sambil memelukku dia sudah orgasme. Tangannya menuntunku keatas ranjang, menyuruhku duduk ditepian dengan dia berlutut dan tangannya menggenggam kontolku sesaat lidahnya mulai berputar-putar di kepala kontolku yang telah mengeluarkan cairan. Berlahan genggamannya bergerak naik turun mengocok-ngocok kontolku yang berkilat-kilat akibat cairan birahinya.

"Ahh-h"

Melihat aku terengah-engah Iffah menghentikan kocokannya, kontolku sampai memerah dan berdenyut-denyut.

"Dimasukkan mas," Iffah bergegas naik keranjang dan terlentang, membuka kedua kakinya lebar-lebar sehingga tempeknya membuka bagaikan buah durian yang disibak.

"Ahh-h," dengan bimbingannya kontolku mengarah kedinding vaginanya. Kepala kontolku menyeruak masuk menembus hingga pangkal vaginanya. Hangat, licin dan berdenyut-denyut mencengkeram batang dan menjebak dalam-dalam kepala kontolku. Dengan memeluknya erat aku mempermainkan pinggulku naik turun.

"Sssttt.. ttt... nnni.. kk..mmaatt... sssstt.." Iffah turut memutar-mutar pinggulnya, sementara kontolku yang berukuran jumbo tercengkeram erat oleh vaginanya yang biasanya dimasuki oleh kontol suaminya yang berukuran standar.

Iffah menekan kuat pinggulku dengan kedua tangannya tapi karena panjangnya 19.5 cm maka 3/4 saja yang masuk, itupun Iffah sudah sangat-sangat merem-melek. Luar biasa kontol yang aku miliki, kesombongan melintas dalam benakku. Tapi yang namanya pengalaman merupakan modal yang utama selain besarnya kontolku.

Tidak sampai lima belas kali sodokan tiba-tiba crot-crot-crot aku menembakkan spermaku, melihat itu Iffah tidak tinggal diam. Kedua kakinya menelikung dipinggulku, mendekap sangat erat dan crot-crot-crot diapun orgasme untuk yang kedua kalinya.

"Ennaaakk..gila!"

"Mau telpon siapa?" Kataku disuatu pagi ketika kami merencanakan untuk kembali ke Pekalongan.

"Telpon rumah," katanya dengan manja sembari tiduran di ranjang losmen. Mataku memandang payudaranya dalam balutan kaos berwarna biru ketat. Dibagian pusarnya terlihat dan resletting celana jeans-nya tidak dikancingkan sehingga celana dalamnya yang berwarna biru terlihat sangat kontras dengan warna kulit tubuhnya yang putih mulus.

"Kangen?" Selidikku dengan nadah cemburu, aneh padahal toh dia akan menelepon suaminya. Suaminya yang sah dan aku cemburu justru akulah yang aneh, tapi itu tidak aku sadari. Aku menelan ludah manakala tanpa sengaja Iffah menggeser badanya sehingga resletting celananya semakin melorot sampai kedasar, hanya tinggal menunggu ditarik turun maka terbukalah semuanya.

"Mau bilang kalau aku pulang tiga hari lagi," dia melirik manja kearahku dan mungkin dengan sengaja sedikit menurunkan belahan celananya dan telapak tangan kirinya merayap kepermukaan celana dalamnya yang berwarna biru, lalu terdengar dia berbicara dengan seseorang di telepon genggamnya. Aku hanya melongo, pintu lemari yang hendak aku buka aku tutup kembali.

"Pa, masih ada orderan yang harus aku selesaikan nih. Aku balik tiga atau empat hari lagi, gimana kabarnya?"

Iffah diam sedang mendengar suara balasan dari HP-nya.

"Aku hati-hati deh pa, da." Lalu dia memandang kearahku, aku hanya melongo didepan lemari.

"Tiga hari lagi kita pulang, oke?"

Iffah melepas kaos yang dipakainya beserta behanya, membuat payudaranya yang bulat kenyal terbuka, sementara celana jeansnya sudah hampir 1/3 melorot kebawah.

"Ayo, kita mulai lagi"

Aku merayap di dadanya dengan tidak mengenakan pakaian selembar pun, kami berdua kembali berbugil ria di pagi itu.

"Uggh..hh..!"

"Auww..!"

"Massuu.. kk.." Seraya aku menyodokkan pinggulku.

"Ssstt.. ttt.. nnii..kkk..mm..m..aaat.." junggle rummy

Sodokan dari pinggulku ke liang vaginanya alhasil membuatnya kelojotan, cairan yang keluar dari vaginanya sebagai pelicin karena sekali lagi hanya 3/4 kontolku yang tertancap di dalam vaginanya. Bukan erangan kesakitan melainkan erangan kenikmatan yang keluar dan akan berulang-ulang terdengar sampai beberapa hari kedepan. Satu lagi kelebihanku adalah ternyata aku mampu melakukan orgasme sampai tiga kali, ini yang jarang dimiliki oleh laki-laki lain. Kelebihanku inilah yang dimanfaatkan oleh Iffah sehingga membuatnya mana tahaann.

Masih ada Iffah-Iffah lain yang ikut merasakan kontolku, dimana dalam pekerjaanku aku termasuk sukses nyatanya order perusahaan sangat banyak sehingga pegawai marketing pun aku tambah. Tidak jarang selama aku bawa mereka keluar kota mereka aku perlakukan sebagai selimut biologisku tentunya dengan iming-iming bonus yang besar.

Inilah yang membuat mereka tergiur, semua berkat uang. Bagiku itu semua gampang, dengan bonus sangat besar dari perusahaan aku dapat memenuhi kebutuhan staffku yang bersedia dan harus mau menjadi selimut biologisku. Beberapa diantaranya menolak dan mereka menanggung akibatnya yaitu aku keluarkan dengan dalih banyak hal. CROWN VN




Friday, January 29, 2021

CACA SI PERAWAN

 

CROWN GAMES
CROWN GAMES


840a - Perkenalkan namaku Caca, saat ini usiaku 27 tahun, aku bekerja disalah satu perusahaan telekomunikasi. Aku akan menceritakan kejadian yang aku alami sekitar 5 tahun yang lalu waktu aku masih kuliah ke dalam cerita seks terbaru kurelakan perawanku padanya

Waktu itu usiaku baru 22 tahun, dan aku masih kuliah dikota B. Karena aku bukan asli kota B maka aku terpaksa ngekos. Setelah aku mencari informasi dari kawan-kawan yang baru aku kenal dikampus, aku dikasih tau tempat kos-kosan yang katanya bebas dan nyaman. Dan segeralah aku menuju tempat kos-kosan itu. sesampainya disana aku aku melihat sebuah rumah besar, terlihat juga muda-mudi seusiaanku keluar masuk kos-kosan tersebut.

Setelah aku bertanya salah seorang perempuan yang hendak keluar kos, aku diajak masuk dan diantarkan ketemu sama yang punya kos. Sampai didalam kos aku disuruh menunggu sejenak, dan tak berapa lama setelah aku menunggu, akhirnya datanglah seorang lelaki setengah baya sekitar 35 tahunan dengan pakaian yang rapi dan juga wajah yang ganteng. Setelah beberapa lama membicarakan tentang harga kos dan juga ketentuan-ketentuan kos akhirnya terjadi kesepakatan dan hari itu juga aku ngekos disitu.

Singkat cerita, Sejak kemarin aku tidak kuliah karena terserang flu. Jendela kamarku yang berkaca gelap dan menghadap ke taman samping rumah membuatku merasa asri melihat hijau taman, apalagi di sana ada seorang lelaki setengah baya yang sering kukagumi. Memang usiaku waktu itu baru menginjak dua puluh satu tahun dan aku masih duduk di semester enam di fakultasku dan sudah punya pacar yang selalu rajin mengunjungiku di malam minggu. Toh tidak ada halangan apapun kalau aku menyukai lelaki yang jauh di atas usiaku.

Tiba-tiba ia memandang ke arahku, jantungku berdegup keras. Tidak, dia tidak melihatku dari luar sana. Om Hery mengenakan kaos singlet dan celana pendek, dari pangkal lengannya terlihat seburat ototnya yang masih kecang. Hari memang masih pagi sekitar jam 9:00, kawan sekamar kostku telah berangkat sejak jam 6:00 tadi pagi demikian pula penghuni rumah lainnya, temasuk Tante Hery istrinya yang karyawati perusahaan perbankan.

Memang Om Hery sejak 5 bulan terakhir terkena PHK dengan pesangon yang konon cukup besar, karena penciutan perusahaannya. Sehingga kegiatannya lebih banyak di rumah. Bahkan tak jarang dia yang menyiapkan sarapan pagi untuk kami semua anak kost-nya. Yaitu roti dan selai disertai susu panas. Kedua anaknya sudah kuliah di luar kota. Kami anak kost yang terdiri dari 6 orang mahasiswi sangat akrab dengan induk semang. Mereka memperlakukan kami seperti anaknya. Walaupun biaya indekost-nya tidak terbilang murah, tetapi kami menyukainya karena kami seperti di rumah sendiri.

Om Hery telah selesai mengurus tamannya, ia segera hilang dari pemandanganku, ah seandainya dia ke kamarku dan mau memijitku, aku pasti akan senang, aku lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari obat-obatan. Biasanya ibuku yang yang mengurusku dari dibuatkan bubur sampai memijit-mijit badanku. Ah.. andaikan Om Hery yang melakukannya. rummy

Kupejamkan mataku, kunikmati lamunanku sampai kudengar suara siulan dan suara air dari kamar mandi. Pasti Om Hery sedang mandi, kubayangkan badannya tanpa baju di kamar mandi, lamunanku berkembang menjadi makin hangat, hatiku hangat, kupejamkan mataku ketika aku diciumnya dalam lamunan, oh indahnya. Lamunanku terhenti ketika tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamarku, segera kutarik selimut yang sudah terserak di sampingku.

“Masuk..!” kataku.

Tak berapa lama kulihat Om Hery sudah berada di ambang pintu masih mengenakan baju mandi. Senyumnya mengambang

“Bagaimana Caca? Ada kemajuan..?” dia duduk di pinggir ranjangku, tangannya diulurkan ke arah keningku. Aku hanya mengangguk lemah. Walaupun jantungku berdetak keras, aku mencoba membalas senyumnya. Kemudian tangannya beralih memegang tangan kiriku dan mulai memijit-mijit.

“Caca mau dibuatkan susu panas?” tanyanya.

“Terima kasih Om, Caca sudah sarapan tadi,” balasku.

“Enak dipijit seperti ini?” aku mengangguk. Dia masih memijit dari tangan yang kiri kemudian beralih ke tangan kanan, kemudian ke pundakku. Ketika pijitannya berpindah ke kakiku aku masih diam saja, karena aku menyukai pijitannya yang lembut, disamping menimbulkan rasa nyaman juga menaikkan gairahku. Disingkirkannya selimut yang membungkus kakiku, sehingga betis dan pahaku yang kuning langsat terbuka, bahkan ternyata dasterku yang tipis agak terangkat ke atas mendekati pangkal paha,

aku tidak mencoba membetulkannya, aku pura-pura tidak tahu.

“Caca kakimu mulus sekali ya.”

“Ah.. Om bisa aja, kan kulit Tante lebih mulus lagi,” balasku sekenanya.

Tangannya masih memijit kakiku dari bawah ke atas berulang-ulang. Lama-lama kurasakan tangannya tidak lagi memijit tetapi mengelus dan mengusap pahaku, aku diam saja, aku menikmatinya, gairahku makin lama makin bangkit.

“Caca, Om jadi terangsang, gimana nih?” suaranya terdengar kalem tanpa emosi.

“Jangan Om, nanti Tante marah..”

Mulutku menolak tapi wajah dan badanku bekata lain, dan aku yakin Om Hery sebagai lelaki sudah matang dapat membaca bahasa badanku. Aku menggeCacajang ketika jari tangannya mulai menggosok pangkal paha dekat kemaluanku yang terbungkus celana dalam. Dan… astaga! ternyata di balik baju mandinya Om Hery tidak mengenakan celana dalam sehingga kemaluannya yang membesar dan tegak, keluar belahan baju mandinya tanpa disadarinya. Nafasku sesak melihat benda yang berdiri keras penuh dengan tonjolan otot di sekeliling dan kepala yang licin mengkilat.

Ingin rasanya aku memegang dan mengelusnya. Tetapi kutahan hasratku itu, rasa maluku masih mengalahkan nafsuku. Om Hery membungkuk menciumku, kurasakan bibirnya yang hangat menyentuh bibirku dengan lembut. Kehangatan menjalar ke lubuk hatiku dan ketika kurasakan lidahnya mencari-cari lidahku dan maka kusambut dengan lidahku pula, aku melayani hisapan-hisapannya dengan penuh gairah. Separuh badannya sudah menindih badanku, kemaluannya menempel di pahaku sedangkan tangan kirinya telah berpindah ke buah dadaku. Dia meremas dadaku dengan lembut sambil menghisap bibirku.

Tanpa canggung lagi kurengkuh badannya, kuusap punggungnya dan terus ke bawah ke arah pahanya yang penuh ditumbuhi rambut. Dadaku berdesir enak sekali, tangannya sudah menyelusup ke balik dasterku yang tanpa BH, remasan jarinya sangat ahli, kadang pentilku dipelintir sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa. Nafasku makin memburu ketika dia melepas ciumannya. Kutatap wajahnya, aku kecewa, tapi dia tersenyum dibelainya wajahku.

“Caca kau cantik sekali..” dia memujaku.

“Aku ingin menyebadanimu, tapi apakah kamu masih virgin..?” aku mengangguk lemah.

Memang aku masih virgin, walaupun aku pernah “petting” dengan kakak iparku sampai kami klimaks tapi sampai waktu ini aku belum pernah melakukan persebadanan. dengan pacarku kami sebatas ciuman biasa, dia terlalu alim untuk melakukan itu. Sedangkan kebutuhan seksku selama ini terpenuhi dengan masturbasi, dengan khayalan yang indah. Biasanya dua orang obyek khayalanku yaitu kakak iparku dan yang kedua adalah Om Hery induk semangku, yang sekarang setengah menindih badanku.

Sebenarnya andaikata dia tidak menanyakan soal kevirginan, pasti aku tak dapat menolak jika ia menyebadaniku, karena dorongan gairahku kurasakan melebihi gairahnya. Kulihat dengan jelas pengendalian dirinya, dia tidak menggebu, dia memainkan tangannya, bibirnya dan lidahnya dengan tenang, lembut dan sabar. Justru aku lah yang kurasakan meledak-ledak.

“Bagaimana Caca? kita teruskan?” tangannya masih mengusap rambutku, aku tak mampu menjawab.

Aku ingin, ingin sekali, tapi aku tak ingin virginku hilang. Kupejamkan mataku menghindari tatapannya.

“Om… pakai tangan saja,” bisikku kecewa.

Tanpa menunggu lagi tangannya sudah melucuti seluruh dasterku, aku tinggal mengenakan celana dalam, dia juga telah telanjang utuh. Seluruh badannya mengkilat karena keringat, gagang kemaluannya panjang dan besar berdiri tegak. Diangkatnya pantatku dilepaskannya celana dalamku yang telah basah sejak tadi. Kubiarkan tangannya membuka selangkanganku lebar-lebar. Kulihat kemaluanku telah merekah kemerahan bibirnya mengkilat lembab, klitorisku terasa sudah membesar dan memerah, di dalam lubang kemaluanku telah banjir oleh lendir yang siap melumasi setiap barang yang akan masuk.

Om Hery membungkuk dan mulai menjilat dinding kiri dan kanan kemaluanku, terasa nikmat sekali aku menggeliat, lidahnya menggeser makin ke atas ke arah klitoris, kupegang kepalanya dan aku mulai merintih kenikmatan. Berapa lama dia menggeserkan lidahnya di atas klitorisku yang makin membengkak. Karena kenikmatan tanpa terasa aku telah menggoyang pantatku, kadang kuangkat kadang ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba Om Hery melakukan sedotan kecil di klitoris, kadang disedot kadang dipermainkan dengan ujung lidah. Kenikmatan yang kudapat luar biasa, seluruh kemaluan sampai pinggul, gerakanku makin tak terkendali.

“Om… aduh.. Om… Caca mau keluar….” Kuangkat tinggi-tinggi pantatku, aku sudah siap untuk berklimaks, tapi pada waktu yang tepat dia melepaskan ciumannya dari kemaluan. Dia menarikku bangun dan menyorongkan kemaluannya yang kokoh itu ke mulutku.

” Gantian ya Caca.. aku ingin kau isap kemaluanku.” Kutangkap kemaluannya, terasa penuh dan keras dalam genggamanku.

Om Hery sudah terlentang dan posisiku membungkuk siap untuk mengulum kemaluannya. Aku sering membayangkan dan aku juga beberapa kali menonton dalam film biru. Tetapi baru kali inilah aku melakukannya. Gairahku sudah sampai puncak. Kutelusuri pangkal kemaluannya dengan lidahku dari pangkal sampai ke ujung kemaluannya yang mengkilat berkali-kali.

“Ahhh… Enak sekali Caca…” dia berdesis. junggle rummy

Kemudian kukulum dan kusedot-sedot dan kujilat dengan lidah sedangkan pangkal kemaluannya kuelus dengan jariku. Suara desahan Om Hery membuatku tidak tahan menahan gairah. Kusudahi permainan di kemaluannya, tiba-tiba aku sudah setengah jongkok di atas badannya, kemaluannya persis di depan lubang kemaluanku.

“Om, Caca masukin dikit ya Om, Caca pengen sekali.” Dia hanya tersenyum.

“Hati-hati ya… jangan terlalu dalam…” Aku sudah tidak lagi mendengar kata-katanya.

Kupegang kemaluannya, kutempelkan pada bibir kemaluanku, kusapu-sapukan sebentar di klitoris dan bibir bawah, dan… oh, ketika kepala kemaluanya kumasukkan ke dalam lubang, aku hampir terbang. Beberapa detik aku tidak berani bergerak tanganku masih memegangi kemaluannya, ujung kemaluannya masih menancap dalam lubang kemaluanku. Kurasakan kedutan-kedutan kecil dalam bibir bawahku, aku tidak yakin apakah kedutan berasal dariku atau darinya.

Kuangkat sedikit pantatku, dan gesekan itu ujung kemaluannya yang sangat besar terasa menggeser bibir dalam dan pangkal klitoris. Kudorong pinggulku ke bawah makin dalam kenikmatan makin dalam, separuh gagang kemaluannya sudah melesak dalam kemaluanku. Kukocokkan kemaluannya naik-turun, tidak ada rasa sakit seperti yang sering aku dengar dari kawanku ketika kevirginannya hilang, padahal sudah separuh. Kujepit kemaluannya dengan otot dalam, kusedot ke dalam. Kulepas kembali berulang-ulang.

“Oh.. Caca kau hebat, jepitanmu nikmat sekali.” Kudengar Om Hery mendesis-desis, payudaraku diremas-remas dan membuatku merintih-rintih ketika dalam jepitanku itu.

Dia mengocokkan kemaluannya dari bawah. Aku merintih, mendesis, mendengus, dan akhirnya kehilangan kontrolku. Kudorong pinggulku ke bawah, terus ke bawah sehingga kemaluan Om Hery sudah utuh masuk ke kemaluanku, tidak ada rasa sakit, yang ada adalah kenikmatan yang meledak-ledak.Dari posisi duduk, kurubuhkan badanku di atas badannya, payudaraku menempel, perutku merekat pada perutnya. Kudekap Om Hery erat-erat.

Tangan kiri Om Hery mendekap punggungku, sedang tangan kanannya mengusap-usap bokongku dan anusku. Aku makin kenikmatan. Sambil merintih-rintih kukocok dan kugoyang pinggulku, sedang kurasakan benda padat kenyal dan besar menyodok-nyodok dari bawah.

Tiba-tiba aku tidak tahan lagi, kedutan tadinya kecil makin keras dan akhirnya meledak.

“Ahhh…” Kutekan kemaluanku ke kemaluannya, kedutannya keras sekali, nikmat sekali. Dan hampir bersamaan dari dalam kemaluan terasa cairan hangat, menyemprot dinding rahimku.

“Ooohhh…” Om Hery juga orgasme pada waktu yang bersamaan. Beberapa menit aku masih berada di atasnya, dan kemaluannya masih memenuhi kemaluanku.

Kurasakan kemaluanku masih berkedut dan makin lemah. Tapi kemaluanku masih menyebarkan kenikmatan. Pagi itu kevirginanku hilang tanpa darah dan tanpa rasa sakit. Aku tidak menyesal. CROWN VN



Thursday, January 28, 2021

NIKEN SALES MOTOR YANG BISPAK

 

CROWN GAMES
CROWN GAMES

840a - Siang yang cukup terik saat itu mendadang gelap dengan sedikit gemuruh petir di langit. Seperti yang sudah diperkirakan, tidak berapa lama hujan deras pun turun. Aku yang masih berkendara diatas motor menuju rumah pun bergegas mencari tempat berteduh. Hujan pun semakin lebat, untungnya tidak jauh dari sana terdapat dealer motor kecil yang bisa digunakan untuk berteduh. Segera aku parkirkan motor ku dan menunggu hujan reda.

Di dealer motor yang ukurannya tidak terlalu besar itu, hanya terdapat satu orang sales, wanita, masih terlihat muda dan cantik. Ia memberikan senyum manis saat aku tidak sengaja melihat-lihat ke dalam dealer.

Tidak lama, wanita tersebut keluar dengan membawa bangku kecil dari plastik berwarna merah lalu memberikannya kepadaku.

"Ini mas duduk dulu sambil nunggu hujan. Daripada pegal berdiri terus..." Ujarnya sambil memberikan bangku.

"Eh, gak usah mbak, gapapa kok. Duh, jadi ngerepotin..." Balas ku tak enak hati.

Wanita tersebut hanya tertawa, "Gapapa mas, itung-itung saya ada temennya. Dari pagi sendirian soalnya."

Dari percakapan singkat tersebut, aku pun memberanikan diri untuk berkenalan. Gadis muda cantik yang sendiri dari pagi di dealer motor kecil itu bernama Niken.

Hampir satu jam kami ngobrol hingga hujan pun berhenti. Sebelum pulang, aku meminta kartu namanya.

Sesampainya di rumah, aku pun melanjutkan obrolan dengan Niken melalui pesan singkat BBM. Meski baru bertemu dan belum lama kenal, tapi aku sudah nyambung untuk ngobrol banyak dengan Niken. Ditambah responnya yang baik untuk setiap pertanyaanku membuatku betah berlama-lama mengobrol dengan Niken.

Kedekatanku dengan Niken yang hanya sebatas BBM-an pun semakin intens. Aku pun memberanikan untuk mengajaknya bertemu sekedar makan malam atau ngobrol-ngobrol lagi seperti pertama aku bertemu dengannya di dealer motor tersebut.

Niken pun menyetujui permintaanku dengan syarat harus mau menunggunya pulang kerja yaitu sekitar pukul 7 malam. Aku menyanggupi permintaannya dan berjanji akan menjemputnya di tempat kerjanya begitu ia selesai kerja.

Hari yang sudah dijanjikan pun tiba, aku yang baru saja selesai bersiap-siap dikosan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Niken. Segera ku naikan motor bebekku dan meluncur menuju tempat Niken bekerja.

Begitu sampai disana, kulihat Niken sedang duduk manis ditempat aku numpang berteduh waktu itu, ditemani salah satu temannya yang juga sedang menunggu dijemput. Melihatku yang sudah tiba, Niken langsung beranjak sambil berpamitan dan menghampiriku.

"Hai, kirain gak jadi jalannya hehehe..."

"Jadi dong, tadi lama karena isi bensin dulu heheh, maaf ya jadi menunggu lama..." Ucapku.

"Ah enggak kok, aku juga baru selesai kerjanya." Ujar Niken sambil naik ke motorku. rummy

Kami berdua pun meluncur ke salah satu Mall yang ada dikota kami untuk mencari tempat makan. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor Niken tersebut. Sesampainya disana kami langsung menuju restoran yang sudah kami tentukan dan memesan makanan.

Obrolan dengan Niken tetap menyenangkan seperti pertama kali kita bertemu. Aku tidak bosan-bosannya mendengarkan cerita Niken tentang teman, atau pekerjaannya. Aku sendiri tidak banyak berbicara karena aku memang tipe orang yang pendiam.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Niken pun mengajakku pulang karena hari sudah malam. Aku mengiyakan dan segera menuju ke tempat parkir. Aku pun mengantarkan Niken pulang ke rumahnya yang sebetulnya tidak terlalu jauh dari letak kosanku.

Rumah Niken yang kecil dan asri terlihat sepi, sesampainya di depan pagar rumah, Niken memintaku untuk singgah sebentar sekedar menghilangkan letih karena sudah mau mengantarkannya pulang. Aku menyetujuinya dan masuk ke dalam rumahnya.

"Silakan duduk, Mas. Anggap saja rumah sendiri ya..." Ujar Niken sambil memersilakan aku duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya. "Sebentar aku ganti baju dulu ya, Mas..."

Aku memerhatikan Niken dari belakang. Pantatnya yang cukup besar tercetak dengan jelas dibalik celana kerjanya yang berwarna hitam. Belum lagi kemeja putih lengan pendek cukup ketat yang digunakannya membuat tubuhnya terlihat semakin seksi dan akupun mulai berpikiran kotor untuk bisa menikmati tubuh Niken.

Entah setan apa yang merasuki diriku, aku pun mengikuti Niken yang sedang berganti baju di kamar. Pintu kamarnya tidak tertutup dengan rapat sehingga aku bisa membukanya tanpa bersuara. Kulihat Niken sedang mencari pakaian di lemari dengan posisi memunggungiku. Aku pun mendekatinya dan memeluk Niken dari belakang.

Niken pun kaget dan sempat berteriak, namun teriakannya tidak lama karena ia melihat aku lah yang memeluknya dari belakang. Dengan cepat aku remas payudara Niken yang cukup besar dengan posisi memeluk dari belakang, sambil mulutku mengincar leher Niken yang cukup jenjang.

"Uhhhh, Masss! Jangan massssss, jangannnn...." Desah Niken menerima perlakuanku. Anehnya tidak ada banyak perlawanan dari Niken, hanya rintihan dan desahan yang justru membuat aku semakin bernafsu.

Aku semakin berani dengan memasukan tanganku ke dalam pakaian Niken. Ku angkat bra Niken agar remasan ku di payudaranya semakin mudah.

Niken merintih semakin jadi, rangsangan dariku sepertinya berpengaruh banyak pada libido Niken yang terlihat dari nafasnya yang semakin berat.

"Uhhh, Masss....."

Aku yang sudah terangsang daritadi pun mengangkat pakaian Niken dan membalikan posisinya agar menghadap ke arahku. Segera ku lumat bibir tipisnya yang merah sambil menjulurkan lidahku masuk ke dalam mulutku. Dengan penuh nafsu, Niken membalas ciumanku dan mengigit gigit lidahku sesekali. Nafasnya terasa lebih berat diwajahku. Matanya terpejam menikmati ciuman dan remasan tanganku di payudaranya.

Masih dengan posisi berdiri, aku pun menarik tangan Niken dan mengarahkannya ke celana ku. Batang kemaluanku sudah cukup keras dan aku ingin Niken yang memuaskannya lebih jauh. Niken pun mengerti apa yang aku mau. Ia segera membuka celana ku dengan bibirnya yang tak mau lepas dari bibirku.

Celana ku terbuka, batang kemaluanku yang sudah mengeras daritadi pun keluar dari tempat persembunyiannya. Niken mengusap-usap perlahan dengan tangannya. Aku merem melek karena keenakan.

Kali ini aku gantian membuka celana Niken. Ku masukan terlebih dahulu tanganku ke dalam celananya. Ku rasakan sudah begitu basah lipatan vagina di balik celana dalamnya. Aku memainkan vaginanya sedikit dengan jariku yang membuat Niken tampak kegelian, menggelinjang namun menyukai apa yang aku lakukan.

"Masssss, di kasur dong Masss, jangan disinii..." Pinta Niken lirih. Aku pun mengangguk sambil menarik Niken ke ranjangnya yang tidak terlalu besar namun cukup untuk pergumulan kami berdua.

Aku yang berbaring terlebih dahulu pun memberikan isyarat kepada Niken untuk menghisap batang kemaluanku. Niken hanya tersenyum sambil meraih batang kemaluanku dan mengocoknya pelan. Dengan perlahan, Niken memasukan batang kemaluanku ke dalam mulutnya dan menghisapnya dengan kencang. Hal ini tentu membuatku merasa geli, namun nikmat yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun.

"Hhhhh, enak sayang, terus kayak gitu, hhhhh..." Erangku pelan.

Aku pun menikmati hisapan Niken dibatang kemaluanku sambil meremas payudara Niken. Sekitar 10 menit Niken sibuk menyantap kemaluanku dengan ganasnya. Kali ini giliran ku untuk memuaskan Niken. Aku arahkan ia agar berbaring di kasur.

Aku pun memulai dengan menciumi ke dua payudaranya, putingnya yang sudah mengeras kini semakin keras dan merekah. Aku menurunkan ciumanku ke perutnya yang tampak rata. Secara perlahan, ciuman terus menurun sampai akhirnya tiba di vaginanya yang sudah basah, merah dan merekah itu.

Aku jilat bibir vaginanya, ku mainkan klitorisnya dengan lidah. Niken pun menggelinjang keenakan.

"Aaaaahhhhhhhhhhhhhhh, massssssss enaaakkkk massss...." begitu desahnya saat aku memasukan ke dua jariku ke dalam vagina Niken dengan lidah dan bibirku yang tidak ingin lepas dari aroma vaginanya yang sungguh membuat birahi semakin meninggi.

Niken meremas dan menarik rambutku dengan gemas karena kenikmatan yang ia rasakan. Sekitar 5 menit aku memberikan pelayanan terbaikku di vagina Niken, ia menekan kepalaku agar semakin dalam di vaginanya dan berteriak keras. "AAAARGGGGGGHHHH, AKU KELUAR ARGGHH MASSSSS!"

Terasa beberapa semprotan cairan kenikmatan dari vagina Niken menyembur keluar dan langsung ku lahap sambil habis. Terlihat Niken sudah penuh keringat dengan mulut terbuka untuk mencari nafas dan berusaha menikmati momen terbaik yang baru saja ia rasakan.

Aku yang masih dilanda birahi tinggi pun segera naik ke atas Niken dan bermaksud untuk menggenjot vagina Niken dengan batang kemaluanku yang semakin keras ini.

"Mas, ada kondom gak?" Tanya Niken lirih. Aku terdiam sambil mengingat-ingat kondom yang biasa aku bawa dan aku simpan di dompet.

Aku pun bangun dari ranjang dan meraih celana ku yang tergeletak di lantai. Ku cari dompetku yang ada di saku belakang. Untungnya dua buah kondom masih tersimpan dengan baik, aku cek tanggal kadaluarsanya yang masih lama itu. Niken membubuhkan senyum manisnya begitu aku memegang kondom.

Segera ku buka kondom dengan bungkus warna merah tersebut, ku keluarkan dan ku pasangkan dengan cepat ke penisku.

Birahi yang sudah makin tak tertahankan dengan segera membuat penisku sudah berada didepan vagina Niken. Ku gesekkan perlahan penisku yang berbalut kondom tipis tersebut sehingga Niken menggelinjang menahan nikmat.

"Masssss, masukin massss...." Desah Niken yang awalnya ku kira akan menolak persetubuhan ini, namun sebaliknya, ia yang terlihat paling menikmatinya.

Perlahan aku masukan penisku ke dalam vagina Niken. Begitu masuk setengah, aku keluarkan lagi. Kemudian ku masukan lagi pelan-pelan, sengaja aku lakukan seperti itu agar vagina Niken semakin terangsang dan ia bisa orgasme lebih cepat.

Ku genjot perlahan vagina Niken. Penisku keluar masuk dengan irama pelan. Niken tidak bersuara, hanya mulutnya yang terbuka dengan mata terpejam. Sungguh pemandangan yang begitu sedap dipandang berlama-lama.

Sepuluh menit sudah ku genjot vagina Niken sambil sesekali ku hisap dan ku remas payudaranya yang bergoyang seirama kocokan penisku. Niken mendesah, erangannya menunjukan ia akan segera orgasme sebentar lagi.

"Uhhh, Massssss... Terus masssssss... Aaaahhh, masss, Nikmat masssss....." Desah Niken sambil melilitkan kakinya di pinggangku agar penis ku tertancap semakin dalam di vaginanya.

Ku percepat genjotanku di vagina Niken, kedutan yang dibuat vagina Niken semakin terasa dan menambah kenikmatan, ditambah kondom yang tipis ini memberikan sensasi yang sungguh luar biasa di penisku ini. junggle rummy

"Aaaaah, masss, aku mau keluar lagi, massss... Ahhhhh..."

Aku pun semakin liar menggenjot Niken. Meski begitu, aku belum merasakan ingin mencapai klimaks. Aku kali ini hanya ingin mengejar Niken untuk orgasme lagi yang ke dua kalinya.

"MASSS... AKU KELUAR AAAHHHH MASSSSSS..." Niken meraih punggungku dan mendekapku begitu kencang seiring dengan orgasmenya yang meledak ledak di dalam vaginanya.

Penisku terasa semakin terjepit oleh vagina Niken yang berkedut keras. Sungguh nikmat tiada tara.Begitu orgasmenya selesai, dekapan Niken pun melemas. Kini aku bisa bangun dan melanjutkan pekerjaan ku untuk menggarap vagina Niken. Apalagi penisku yang masih belum sampai ke puncaknya, membuatku ingin segera menikmati vagina Niken yang sungguh luar biasa.

Tanpa memedulikan Niken yang terbaring lemas. Aku kembali mengocok penisku keluar masuk vagina Niken. Niken tampak tak kuasa menahan birahiku yang sudah tinggi. Ia hanya mengerang begitu vaginanya mendapat serangan yang sama dari penis yang haus kenikmatan ini.

"Hhhhh, massss... uhhhhh...." hanya itu yang keluar dari mulut Niken saat penisku kembali tertancap di vaginanya.

Niken yang tadi lemas, terlihat kembali bersemangan dan bernafsu mendapati penisku memenuhi vaginanya.

Ku genjot vagina Niken, kali ini dengan cepat dan aku berfokus pada nikmat yang aku rasakan agar aku bisa segera orgasme. Dan benar saja, tidak sampai lima menit aku keluar masukan penis ku dari vagina Niken, aku merasakan ada dorongan yang luar biasa dari dalam penisku.

"Hhhh, aku mau keluar sebentar lagi, sayangggg..." bisikku pada Niken, masih sambil mengenjotnya.

Niken hanya menganggukan kepala. Aku semakin percepat genjotanku sampai...

"Aaaaargggg!!" dan crot crottt keluarlah semua sperma yang sudah tertahan lama di kantung kemihku. Rupanya, begitu aku orgasme, Niken mengalami orgasme juga untuk yang ketiga kalinya.

"Aaargh, nikmat sekali sayang! Penis kamu nikmat sekaliiiii!" Teriak Niken begitu ia mencapai orgasmenya yang ketiga.

Setelah itu, aku pun berbaring di samping Niken untuk merasakan sisa sisa kenikmatan dari pergumulan barusan. Tubuh kami sudah sama-sama bercucuran keringat. Tidak lama Niken tertidur pulas, mungkin karena kecapekan.

Aku pun merapihkan pakaian dan membersihkan diri lalu segera pulang ke kosan meski waktu sudah menunjukan pukul 2 malam.

Meski pengalaman seks kami berdua begitu nikmat, tapi setelah kejadian itu Niken tidak membalas pesan dan telepon ku lagi. Bahkan waktu aku mendatangi kantornya, temannya berkata bahwa Niken sudah pindah dan tidak lagi bekerja di tempat itu. Entah kemana Niken pergi, terkadang aku merindukannya, merindukan berbicara dengannya, juga tidur bersamanya. CROWN VN



Wednesday, January 27, 2021

MEILING

 

CROWN GAMES
CROWN GAMES

840a - Urusanku baru selesai jam 5 an sore. Aku segera kontak Mei Ling ke HP nya. Kami kemudian janjian bertemu di sebuah cafe di mall tempat pertama kali kami berkenalan.

Ketika aku masuk ke cafe itu, aku lihat Mei Ling sudah duduk menunggu di sebuah meja. Kebetulan suasana cafe agak lengang. Aku segera berjalan ke arah Mei Ling.

"Sudah lama nunggu Ling?" tanyaku sambil duduk di kursi di samping Mei Ling.

"Belum kok Mas, aku juga barusan datang. Minumanku juga belum diantar tuh." Mei Ling menjawab sambil tersenyum manis.

Seorang waitress datang mendekat, aku memesan minuman dingin. Sekarang aku punya kesempatan buat memperhatikan Mei Ling dgn lebih seksama. Petang itu dia sungguh cantik dan sexy sekali. Kausnya ketat berwarna coklat, modelnya pendek sehingga sebagian kulit perutnya yg sangat putih mulus itu nampak dgn jelas. Kaus itu berkerah agak lebar dan rendah sehingga sebagian bahu dan dadanya bagian atas terbuka, semakin mempertegas keseksiannya. Paduan dari kaus itu adalah rok mini berbahan tebal berwarna krem, sangat serasi dgn atasannya. Pokoknya petang itu Mei Ling tampak begitu sexy.

Minuman pesanan kami diantar oleh waitress dan kami mulai ngobrol sambil menikmatinya. Hampir setengah jam kami berbincang, ketika minuman kami telah terminum habis, Mei Ling berkata,

"Mas Benny belum makan kan? Kita cari makan yuk ,. Mas suka chinese food kan?"

"Ok deh Ling."

Kami berjalan bersama ke tempat parkir. Dan Mei Ling segera memacu mobilnya ke sebuah restaurant di deretan ruko yg cukup ramai. Kami menuju ke lantai 2 dan duduk di meja di sudut ruangan. Sambil menikmati hidangan yg lezat kami berbincang santai. Sekitar sejam kami di rumah makan itu dan kami kembali ke hotel.

Sesampai di hotel, begitu pintu kamar tertutup, aku segera memeluk Mei Ling sambil mengecup bibirnya. Dia membalas kecupanku dgn lumatan lembut di bibirku. Akupun balik melumat bibirnya yg molek itu. Jujur saja, aku sempat tergetar saat mencium Mei Ling seperti ini. Ciuman ini sungguh jauh dari ciuman penuh nafsu, betul² ciuman yg sangat mesra seperti dgn orang yg kita cintai. Jarang aku merasakan getaran spt ini kecuali dgn istriku. Entah berapa lama kami berpagutan mesra sampai akhirnya Mei Ling melepaskan bibirnya dari bibirku dan berkata,

"Mandi dulu yuk Mas."

Aku hanya mengangguk dan menggandeng tangannya ke kamar mandi. Sesampai di kamar mandi kami segera saling melucuti pakaian masing². Tak bosan²nya aku memandang tubuh molek yg bugil di hadapanku. Aku akag terperanjat melihat bahwa seluruh bulu pubisnya telah tercukur habis sampai gundul. Sungguh indah, seluruh tubuhnya begitu mulus tanpa sehelai bulupun. Mei Ling agak risih juga aku pandangi seperti itu, dia segera menarik tanganku dan menajak aku masuk bathtub.

Aku segera menghidupkan shower dan mengatur kehangatan air. Aku menyiram tubuh indah Mei Ling dgn shower dan mulai menyabuni setiap jengkal kulit mulusnya. Mei Ling pasrah saja dan tampak menikmati apa yg aku lakukan. Agak ber-lama² aku kedua usap buah dadanya yg ranum itu. Putingnya yg indah mulai mengeras. Kemudian aku belai² perut rampingnya, terus turun ke bawah sampai ke kemaluannya yg polos itu.

"Bodimu mulus banget Ling," tak tahan aku untuk tak mengatakan itu.

"Ah, Mas Ben ngeledek. Bodi udah tua gini lho ya." Mei Ling agak salah tingkah. rummy 

"Tua gimana sih. Kalau tua aja masih mulus gini, gimana mudanya dong," aku coba menggoda.

Mei Ling hanya tersenyum. Aku terus menyabuni daerah pribadinya. Aku sengaja ber-lama² meng-gosok² bagian ini. Rupanya Mei Ling mulai berreaksi terhadap belaianku di daerah sensitif ini. Tubuhnya agak bergetar dan bergoyang mengikuti irama belaianku. Aku segera menyiramkan air ke sekujur tubuhnya sampai semua busa sabun larut dlm air. Tubuh basah Mei Ling terlihat semakin menggiurkan.

Shower segera aku letakkan dan aku gamit tubuh Mei Ling mendekat kearahku sambil aku duduk di pinggir kepala bathtub. Aku pegang kedua pantat Mei Ling dan aku tarik mendekat sampai selangkangannya tak sampai sejengkal di depan mukaku. Rupanya posisi kepalaku agak terlalu tinggi, aku agak membungkuk sedikit sambil menciumi selangkangan Mei Ling yg sangat indah itu. Mei Ling sangat mengerti apa mauku, dia segera mengangkat kaki kanannya dan meletakkannya di sisi bathtub sehingga pangkal pahanya membuka lebar memperlihatkan keindahan yg selama ini tersembunyi di balik lipatan pahanya yg polos itu.

Dalam terangnya lampu neon kamar mandi dan tanpa sehelai bulupun yg menghalangi, aku bisa menyaksikan dari dekat liang kenikmatan Mei Ling yg begitu merangsang. Kltirosnya sudah menyembul dan kaku berdiri tetapt diatas lubang senggamanya yg terlihat begitu sempit. Tak tahan aku segera mengulum klitoris yg mungil itu. Begitu bibirku menyentuhnya, Mei Ling segera bereaksi dgn mengelus lembut kepalaku dan sedikit menekannya lbh rapat ke selangkangannya. Aku segera memutar lidahku menjilati benda yg sangat sensitif itu.

"Ooohhhh  ohhhhh  shhh shhhh." desahan lirih keluar dari bibir mungilnya.

Aku sedikit lbh agresif lagi memainkan lidahku. Kedua tanganku tak henti²nya meremas dan membelai kedua bukit pantat Mei Ling yg halus dan kenyal itu. Goyangan tubuh Mei Ling semakin terasa. Aku mulai menciumi bibir bawah Mei Ling.

"Ohhh , Mas .. Ohhhh . iya  iya .. terus Mas  ."

Aku memang tak bermaksud sedikitpun untuk menghentikan aksiku. Lidahku mulai aku jilatkan ke pinggir lubang kenikmatan Mei Ling. Entah hanya perasaanku atau memang demikian, tapi aku rasakan bahwa vagina Mei Ling sudah mulai basah oleh lendir yg licin. Semakin licin semakin mudah buat lidahku unt me-nari² dan semakin leluasa unt men-jilat² liang senggama Mei Ling.

"Sssshhhh .. ssshhhh .. Mas  Oooohhh  aku nggak tahaaan .. iya .. iya "

Aku sempatkan melirik ke arah cermin besar yg ada di dinding kamar mandi. Terpampang jelas adegan yg begitu memukau. Mei Ling berdiri dgn kaki kanan tertumpu ke sisi bathtub. Mukaku separuh terbenam dalam selangkangannya. Tangan kanan Mei Ling mengusap rambutku dan tangan kirinya meremas kedua payudaranya bergantian. Kepalanya agak terdongkak kebelakang, matanya terpejam rapat. dari balik bibirnya yg mungil yg sedikit terbuka itu terlihat lidahnya menjilat bibirnya sendiri. Sungguh pamandangan yg sangat indah dan merangsang.

Aku sempatkan untuk berkata, "Lihat cermin Ling." 

Mata Mei Ling yg tadi terpejam segera terbuka, wajahnya yg cantik segera menoleh dan menikmati pemandangan di cermin. Aku kembali membelai vaginanya dgn lidahku yg lincah.

"Mas  ohhhh  ooohhh . Mas  iya .. iya " ada sedikit nada bergetar di suara serak Mei Ling.

Aku tahu Mei Ling akan segera mencapai klimaksnya. Aku semakin giat menjulurkan lidahku mengorek lubang kenikmatannya sejauh yg aku mampu. Jari tangan kiriku mulai memelintir klitorisnya yg semakin keras. Tubuh Mei Ling bergetar hebat. aku semakin mempergencar seranganku. Mei Ling mulai berkelojotan tak terkontrol, aku berusaha keras agar bibirku tak lepas dari selgnkangannya. Akhirnya .

"OOOOOOOHHHHHHH . Maaaaaaaaasssssss . OOOOOOOHHHHHHH "

Mei Ling melenguh keras dan badannya kejang menggigil. Aku rasakan lelehan lendir hangat keluar deras dari liang kenikmatannya. Aku segera menyambut cairan kental hangat itu dgn lidahku. Mei Ling telah mencapai puncak orgasmenya. Unt beberapa saat aku masih menciumi selangkangnnya dgn lbh lembut. Tubuh Mei Ling sudah mematung tak bergerak. Hanya deburan nafasnya yg memburu yg menandakan masih ada kehidupan di tubuhnya. Beberapa saat masih seperti ini. Lalu berangsur tubuh Mei Ling mulai melemas. aku pun berdiri dan memeluknya. Mei Ling segera mencium bibirku dgn sangat lembut dan mesra. Kami terus berciuman sampai tubuhnya benar² tenang dan nafasnya tak lagi menderu.

"Mas Ben  aku blm pernah merasakan puas seperti tadi  Mas ," makasih Mas ,aku sayang banget ama Mas Ben." Suaranya benar² tulus.

Mei Ling kembali menciumku, kali ini aku rasakan ada getaran lain di ciuman lembutnya. Terus terang aku agak kaget mendengar pernyataan sayang Mei Ling. Dari sekian banyak wanita yg memadu cinta dgnku, belum pernah ada yg menyatakan perasaannya kepadaku, kecuali istriku tentu saja. Dan memang kami melakukannya hanya demi kenikmatan tanpa melibatkan perasaan. Aku tak tahu hrs mengatakan apa, akhirnya setelah Mei Ling melepaskan bibirnya dari bibirku aku berkata lirih.

"Ling , semua aku lakukan demi kepuasanmu , aku juga menikmatinya Ling." Aku mencoba merangkai kata tanpa hrs mengeluarkan rayaun gombal. junggle rummy

Me Ling mulai tenang, dia segera mengambil shower yg sedari tadi terus mengucur tergeletak di dasar bathtub. Dia menyiram seluruh tubuhku dan menyabuninya. Tongkat kejantannku sedari tadi sudah berdiri tegak. Mei Ling dgn lembut mengusap dan menyabuni pedang pusakaku. Dia segera menyiram tubuhku lagi dgn shower sampai benar² bersih.

"Sekarang gantian Mas , aku pengin memuaskan Mas Ben," Mei Ling berkata sambil mengmbil posisi duduk di pinggir bathtub seperti aku tadi.

Aku sangat mengerti apa yg akan dilakukan oleh Mei Ling. Akupun segera berdiri dihadapannya. Kedua tangan mungil Mei Ling merengkuh pantatku dan menarikna mendekat ke wajahnya yg jelita itu. Tanpa basa-basi dia segera menciumi batang kejantananku dgn bibirnya yg tipis itu. Perlahan lidahnya yg lembut itu mulai menjilati seluruh permukaan kemaluanku. Kadang diselingi dgn kecupan dan hisapan lembut di kantong bijiku. Aku mulai terbuai oleh permaiannya.

Mei Ling sudah mulai mengulum kepala penisku dgn sangat lembut. Kemudian dgn sangat mesra dia mulai memasukkan seluruh tongkat pusakaku kedalam mulutnya yg mungil itu. Sementara di dalam kuluman hangat mulutnya, lidahnya menggelitik leher penisku. Bagian yg paling sensitif dari tubuhku. Aku mulai menggelinjang penuh kenikmatan.

Aku belai lembut kepala Mei Ling, dia bereaksi dgn menyedot ringan kepala penisku. Aku menoleh ke arah cermin. Aku lihat Mei Ling juga memiringkan wajahnya memandang cermin yg sama. Aku tersenyum penuh arti ke arah MeiLing lewat bayangan di cermin itu. Mei Ling hanya mengejapkan sebelah matanya sambil terus mengulum penisku. Sungguh pemandangan yg sampai saat ini masih suka terbayang di benakku. Sebelumnya aku tak pernah mimpi bahwa penisku bisa menikmati mulut dari wajah seayu ini.

Entah berapa banyak wanita yg pernah melayani aku dgn mulutnya, dan masing² punya cara tersendiri yg unik. Apa yg dilakukan Mei Ling sebetulnya juga tak ada yg istimewa sekali, tapi aku rasakan getaran lain. Aku tahu Mei Ling melakukannya dgn penuh rasa sayang, tak sekedar birahi semata. Hanya ada satu wanita lain yg bisa melakukannya seperti ini, Winda, istriku tentu saja.

Lidah dan bibir Mei Ling masih terus menggerayangi kemaluanku. Nafasku semakin memburu sambil mataku lekat memandang adegan di cermin. Mei Ling juga menikmati apa yg dia lakukan, lirikannya juga tak lepas dari cermin itu.

"Ahhh .. ahhhh  Ling  nikmat  ah . Ling .., kamu pinter Ling .. ahhh terus .. iya.. iya " tanpa bisa aku kontrol mulutku mulai menyuarakan apa yg aku rasakan.

Mei Ling membalas desahanku dgn gelitikan lidahnya di batang penisku. Ini membuat aku semakin terbang ke awang².

"Ahhhhh .. ahhhhh .. enak Ling , mulutmu enak sekali Ling  terus .. ahhhhh  aku nggak tahan Ling   ,ahhh "

Mei Ling bisa membaca gelagat bahwa puncak gunung kenikmatan sdh di depan mataku. Dia agak merubah gayanya, bibirnya mengecup kepala penisku. Tangan kanannya yg sedari tadi mengelus pantatku mulai mengocok batang penisku. Mula² lambat, semakin lama kocokannya semakin cepat. Badanku tak bisa kutahan unt tidak gemetar penuh kenikmatan. Dalam kondisi spt ini biasanya aku memejamkan mata unt lbh menikmati perasaan ini. Tapi kali ini mataku terbuka lebar menatap adegan hot di cermin kamar mandi. Mei Ling juga melakukan hal yg sama, matanya menikmati bayangan yg ada di cermin itu.

Tanggulku sudah hampir tak bisa menampung luberan lumpur yg akan segera menyembur. Tubuhku sudah bergetar hebat seperti truk tua yg tak kuat mendaki tanjakan terjal. Mei Ling sudah melepaskan bibirnya dari penisku, mulutnya menganga lebar dan lidahnya terjulur siap menampung air bah yg dia tahu sebentar lagi akan datang. Kocokannya semakin kuat di batang penisku. Dan ..

"OOOHHHHH Ling ".. crooots croots croots croots.

Entah berapa liter cairan kenikmatanku yg menyembur menerjang masuk ke mulut Mei Ling yg masih terbuka. Sebagian bahkan menyemprot sampai ke hidung dan pipinya. Mei Ling masih mengocok tongkat kejantanku sampai akhirnya dari penisku hanya tertetes beberapa lendir kepuasan yg masih tertinggal di dalam salurannya. Mei Ling kembali memasukkan seluruh penisku kedalam mulutnya. Dia mulai menggerakkan kepalanya maju mundur tanpa tanda untuk berhenti.

Setelah beberapa saat, tongkat nagaku mulai layu. Aku hendak beranjak menjauh tapi dekapan tangan Mei Ling di pantatku menghalangiku. Biarpun penisku sudah lemas, tapi Mei Ling masih mengulum dan mempermainkan di dalam mulutnya. Sungguh aku tak mengerti apa yg dimaui oleh Mei Ling. Aku mencoba menurut saja. Sambil berdiri lunglai, penisku terus dihisap dan dijilatinya. Tangan kanannya mengelus dan meremas lembut kantong bijiku. Barangkali ada lima menit Mei Ling dgn telaten melakukan ini.

Lama kelamaan tanpa aku sadari tongkat komandoku kembali terangkat. Oh wow! Tak pernah ada wanita yg melakukan ini terhadap aku, bahkan Winda! Sungguh luar biasa, aku kembali ereksi karena kuluman Mei Ling. Sekarang peisku sudah kembali berdiri tegap siap menerima tugas selanjutnya. Sambil tak pernah melepaskan genggaman tangannya di batang penisku, perlahan Mei Ling bangkit berdiri. Kami kemudian berciuman dgn mesra.

Lalu aku peluk Mei Ling dari belakang sambil menghadap cermin besar itu. Tangan kiriku mulai meraba dan meremas payudaranya yg kenyal itu. Aku pelintir² lembut putingnya. Mei Ling tampak menyukainya. Dia menoleh ke belakang dan kami berciuman dari samping.

Tanganku mulai bergerilya mengusap dan menggosok kemaluan Mei Ling. Dia memperlancar aksiku dgn mengangkat kaki kirinya ke bibir bathtub. Segera saja jari tanganku mendaraat di klitorisnya yg terpampang jelas dari cermin. Tangan kanan Mei Ling menggeraygn ke belakang tubuhnya dan menemukan penisku yg memang sedari tadi sudah tegak berdiri. aku agak menggesar tubuh ke kanan sehingga sebelah tubuhku nampak di cermin. Sekarang Mei Ling leluasa mengusap lembut batang kejantananku.

Sambil terus saling meraba dan merangsang, mata kami tak lepas dari bayangan indah di cermin besar itu. Kami berdiri agak bersisian dgn sebagain tubuhku di belakang tubuh Mei Ling yg polos. Kaki kiri Mei Ling bertumpu di bibir bathtub. Tangan kiriku menggerayangi kemaluan Mei Ling yg menganga lebar. Tangan kanan Mei Ling mengocok penisku yg berdiri kokoh. Kami masih terus saling menikmati permainan ini unt beberapa saat.

"Ling .. kamu sungguh cantik  bodimu seksi banget "

Mei Ling hanya tersenyum tersipu. Kami terus melanjutkan aksi kami. Beberapa saat kemudian tubuh kami mulai bereaksi dan nafas kami semakin memburu. Aku kemudian membimbing Mei Ling unt keluar dari bathtub. Aku minta Mei Ling membungkuk sambil tangannya bertumpu pada kepala kloset. Kakinya agak aku renggankan sedikit. Perlahan kau tekuk sedikit lututku sehingga selangkanganku pas di belakang pantat Mei Ling yg padat kenyal itu.

Senjataku yg sudah terkokang aku arahkan le pangkal paha Mei Ling yg sedikit terbuka. Dari sudut yg sangat sempit aku bisa lihat liang senggamanya sudah melambaikan tangan merindukan tusukan penisku. Tangan kiriku agak menggeser pantat kiri Mei Ling agar lebih leluasa. Mei Ling membantu dgn tangan kanannya menekan pantat kanannya sehingga jalan masukku semakin lapang laksana jalan tol Jagorawi. Perlahan dgn tangan kananku aku bimbing adikku memasuki gua gelap penuh kenikmatan itu.

Vagina Mei Ling sudah licin oleh lendir pelumas akibat rangsangan jariku tadi. Batang penisku segera meluncur masuk tanpa halangan. Kedua tanganku memegang pinggang Mei Ling yg sangat ramping itu. Pantatku mulai bergerar lembut maju mundur membuat penisku me-nusuk² pelan liang senggama Mei Ling. Mata kami berdua tak lepas dari cermin itu menikmati adegan asyik yg terpampang disana. Punggung Mei Ling agak melengkung, buah dadanya yg sangat ranum itu menggantung merangsang. Tanganku segera meluncur ke bukit indah itu dan mulai meremasnya sambil pantatku terus menyodok maju mundur pelan.

"Oooohhhh  ooohhhh .. shhhh shhhhh .. Mas  nikmat "

Kata² Mei Ling membuat aku sedikit mempercepat pompaan pantatku. Mei Ling mengimbangi dgn goyangan pantatnya memutar searah jarum jam.

"Aaahhh .. Ling . ahhhh  Ling . enak sekali Ling .. aku suka itumu "

"Oooh  Mas  terus  ooohhh .. enak Mas  iya .. iyaaa "

Kami saling bertukar desahan dan erangan penuh kenikmatan. Tanpa terasa sodokan pantatku semakin kencang. Mei Ling semakin merendahkan tubuhnya dan punggungnya semakin melengkung. Aku semakin leluasa. Dekapan kedua tanganku di pinggangnya semakin kencang. aku tarik pinggulnya maju mundur sementara aku berdiri dgn kaki sedikit membuka sehingga kuda²ku semakin kokoh. Pantatku sudah tdk bergerak, sebagai gantinya panggul Mei Ling yg aku gerakkan.

"OOOhhhh Mas . Mas .. aku .. nggak  tahan  terus Mas .. terus "

"Ahhhh  ssssshhhh .. sssshhhh .. Ling .. ayo  aku juga  nggak tahan  ayo Ling .. sekarang "

Pantatku kembali me-nyodok², kali ini dgn keras sehingga seluruh batang penisku menghujam ke lubang vagina Mei Ling. Jari tangan kiriku sudah meng-gosok² klitorisnya. Semuanya sudah berlendir licin. Tubuh Mei Ling sdh kakau tak bergerak, kakiknya berdjingkat dan mengangkang lebar. Gunung Merapiku pun sdh hampir meletus. Aku semakin menghujamkan seluruh batang kejantanaku ke liang kenikmatan Mei Ling sedalam yg aku mampu. Tubuh Mei Ling mulai gemetar.

"Ayo , Mas se..ka..rang ". OOOOOOOOHHHHHHHHHH OOOOOOHHHHHH. "

Lolongan panjang Mei Ling aku timpali dgn hujaman penisku .

"Ahhhhhh  Ling . sreet .. crootz crootz crootz "

Kami mencapai puncak Himalaya hampir berbarengan. Sungguh kenikmatan luar biasa, dan semuanya tadi aku nikmati secara visual di cermin yg jadi saksi kepuasan kami berdua. Sampai detik ini aku masih bisa mengingat persis peristiwa hebat itu sampai sedetailnya. Salah satu pengalaman seksku yg paling dahsyat. Makasih Mei Ling, Aku akan selalu mengenangmu.

Malam itu kami betul² menikmati kepuasan yg tiada tara. Setiap kali aku tugas ke kota M aku selalu memadu kasih dgn Mei Ling dengan penuh mesra dan nafsu membara. CROWN GAMES



Tuesday, January 26, 2021

SHELLY : MENCOBA RASA NYA INCEST

 

CROWN GAMES
CROWN GAMES 

840a - Hai kenalin nama ku shelly, umur ku 20 dan saat ini aku sedang berkuliah di salah satu PTN di kota M. sedikit ku ceritakan ciri-ciri fisik ku, kulit putih kecoklatan, wajah ku lumayan cantik dengan rambut ku yang terurai panjang sedikit melewati bahu, tinggi 160cm, berat 43kg, ukuran payudara ku 34C, ya tubuh ku memang mungil tetapi ukuran payudara ku sedikit terlalu besar. Tetapi bagian yang mungkin paling menarik dari tubuh ku adalah pantat ku yang menurut hampir semua mantan ku, pantat ku sangat seksi.

Aku ingin menceritakan pengalaman seks ku, bukan dengan mantan-mantan ku, melainkan dengan kakak ku sendiri atau istilahnya adalah incest.

Cerita ini terjadi saat aku masih kelas 2 SMA, aku sendiri memang sudah mengenal seks sejak masih kelas 1, pacar pertama ku di SMA yang juga kakak kelas ku lah yang pertama mendapat keperawananku. Namanya dana, dan dialah yang membuat aku jadi kecanduan seks, bahkan aku pernah di pakai oleh nya dan beberapa kakak kelasku yang lain sekaligus saat malam diklat osis di sekolah ku, mungkin akan ku ceritakan di lain waktu.

Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang 2 tahun lebih tua dari ku, namanya bram, kak bram aku memanggilnya. Aku dan kak bram tinggal hanya berdua saja di kota M, sedang ayah dan ibuku sudah setahun ini pindah ke kota J karena ayah ku harus bekerja disana, hanya 1 atau 2 minggu sekali saja mereka pulang ke rumah.

Dengan keadaan seperti itu tidak heran pergaulan ku dan kakak ku sedikit kelewat bebas, tidak jarang aku melihat kak bram diam-diam memasukkan cewek ke rumah saat malam, atau pun kak bram malah tidak pulang sama sekali. Kesempatan seperti itu kadang aku manfaat kan untuk mengajak cowok ku untuk menginap di rumah sekedar melampiaskan hasrat seks ku.

Kembali ke cerita

Saat ini aku sudah hampir 3 bulan single setelah putus dari arya kakak kelas ku di sekolah, aku sakit hati karena dia memamerkan pada teman-teman nya foto-foto kita yang sedang bermesraan setengah bugil di kamarku, hal ini membuat beberapa kakak kelas ku menganggap ku sebagai bispak sekolah dan mereka sering menggodaku tanpa sungkan, untung saja foto-foto itu tidak tersebar sampai ke guru karena aku dan arya bisa saja di keluarkan dari sekolah.

3 bulan aku single, 3 bulan pula aku tidak merasakan seks, hanya kadang jamahan atau colekan kakak kelas ku yang iseng namun sebenarnya sudah cukup membuatku horny dan melampiaskan nya dengan bermasturbasi saat di rumah.

Terkadang untuk membantu ku bermasturbasi, aku sengaja mengintip kak bram yang sedang asik ML dengan cewek nya tentu saja tanpa sepengetahuan kak bram. Dari situ aku tau kalau penis kak bram ternyata lumayan besar dan panjang, setidaknya itu yang paling panjang yang pernah aku lihat secara langsung. Hal itu membuat aku sering tersipu saat berduaan saja dengan kak bram, mungkin karena terkadang aku gak sengaja membayangkan penis kak bram yang besar itu dan mataku reflek melirik ke bagian depan celana nya. rummy

Malam itu saat aku sedang tidur aku terbangun mendengar suara kak bram yang baru pulang sekitar jam 12, muncul niat ku untuk mengintip dan bermasturbasi namun ternyata kak bram pulang sendirian malam itu sehingga aku urungkan niat ku bermasturbasi dan kembali tidur.

Besoknya hari minggu, aku bangun sekitar jam 7 dan ku lihat kak bram masih tertidur di kamarnya, namunyang menarik perhatian ku adalah penis kak bram yang menonjol di balik boxer nya, kakak ku tidur terlentang dengan penis yang mengacung seperti tidak memakai cd, jadi terlihat jelas tonjolannya. Melihat itu aku jadi horny sendiri dan tiba-tiba terpikir untuk menggoda kak bram pagi itu.

Setelah mandi aku berpakaian sangat minim, hanya mengenakan daster bertali mini yang terdapat belahan di bagian dada cukup rendah dan panjang bawahnya bahkan tidak menutup setengah pahaku. Di dalam nya aku memakai bra berwana abu abu agar terlihat kontras dengan kulit ku dan cd tipis berwarna putih.

Awalnya aku membuatkan nasi goreng untuk sarapan kak bram lalu membawakan ke kamar sekalian membangunkan nya.

"kak bangun dah hampir jam 10!" ucap ku membangunkan kak bram, dia hanya terbangun sebentar lalu tidur lagi.

Aku yang kesal lalu naik ke Ranjang menggoyang-goyang tubuh kak bram, "ayo bangun kak! Dah ku buatin sarapan nih", karena terus ku goyangkan tubuh nya, kak bram akhirnya bangun.

Disingkirkan nya guling yang tadi dia peluk dan tanpa kak bram sadari penisnya masih menonjol dibalik celananya. Pipi ku berseri merah namun kak bram tidak memperhatikan malah terlihat sumringa menyambut nasi goreng buatan ku.

"ngapain masih disini?" kata kak bram judes karena sudah 5 menitan aku dikamarnya melihat dia memakan nasi goreng buatan ku, padahal aku sesekali melirik kearah penis nya yang masih menonjol namun sudah agak lemas mungkin karena kak bram sedang asik dengan sarapannya.

"biarin,wekk" kataku tidak memperdulikan, lalu aku membungkukkan tubuh dengan tangan memangku kepalaku sengaja agar belahan daster ku turun dan kak bram bisa melihat jelas payudaraku yang tertutup bra abu.

Ternyata usaha ku berhasil, ku lihat kak bram menatap kearah payudaraku lalu dia menyilangkan kakinya mungkin penis nya mulai bangun lagi dan gak pingin terlihat oleh ku. "ihh kakak ngliatin apaan? Punya adek sendiri sampe melotot gitu", karena seringnya aku memergoki kak bram menatap ke payudara ku.

"pakaian mu loh, ganti baju sana gak enak nanti kalau ada temen kakak yang main ke rumah", kata kak bram dengan nada sok sinis, padahal aku tau dia sangat menikmati pemandangan di depannya.

"hehehe,,emang kenapa sih? Kan seksi, sapa tau temen kakak ada yang naksir aku", jawabku asal. Kak bram hanya diam saja,"menurut kakak aku seksi gak sih?"tanyaku memancing."gak tuh biasa aja, masih lebih seksi kak rina (pacar kakak ku)", "masa sih? Kak rina kurus gitu", kataku.

"emang kakak gak suka cewek yang payudaranya gede?", "glekk", kak bram menelan ludah sambil menatap lama ke payudaraku. "ngapain sih kamu dek, tiba-tiba vulgar gini?", hi..hi..hi, aku hanya tertawa lalu berpindah duduk disebelah kak bram.

"gakpapa, aku cuma pengen tau aja aku tuh seksi gak menurut kakak", kataku sambil memeluk manja lengan kak bram. Aku yakin kak bram merasakan gencetan payudaraku di lengan nya. Tanpa sadar kulihat penis kak bram semakin menonjol , terlihat jelas meskipun kakinya masih disilangkan.

"apa tuh yang nonjol di celana kakak? Ihh kakak gak pake cd ya?, sentak ku, hush jangan di liat, kakak emang gak pernah pke cd kalau tidur, ini tuh reflek cowok kalo bangun tidur pasti titit nya berdiri, kata kakakku sok menutupi kalau dia sedang horny.

"bohong banget, tadi aku liat kok titit kakak udah lemes, kok sekarang jadi bangun lagi?", kak bram Cuma diam, kak bram horny ya liat shelly kayak gini, hi..hi.., "apaan sih shel, gak lucu ah", dengan nada sewot namun agak terbata juga bicaranya.

Dengan cepat aku beranikan diri untuk menggenggam penis kak bram dari luar boxer nya, "ahhh", kak bram mengerang kepalanya mendongak ke atas. Seperti tersengat listrik kak bram lalu menaruh piring sarapannya di meja samping ranjang lalu tangan kanannya yg daritadi ku peluk merangkul kepalaku, tangan kirinya meremas payudara ku agak keras dan bibirnya mulai menyosor mengulum bibir mungil ku.

"emmm,ehm", hanya suara itu dan kecipak bibir kita berdua yang terdengar. Tangan ku sudah tidak lagi hanya menggenggam penis kak bram namun kini aku gerakkan atas bawah mengocoknya.

Kak bram semakin menjadi melumat bibir ku, air liur kita saling betukar sampai menetes di sela bibir ku, tangan kak bram masuk melalui belahan daster ku menyelinap di balik bra ku lalu dengan gemas meremas-remas payudaraku sambil memainkan putingku.

"emm,akhhh, geli kak emm,pelan",aku setengah mati merasakan geli bercampur rasa sakit akibat remasan kakak ku.

Kak bram melepas ciuman nya dan kita terengah-engah berusaha mengatur nafas, "hahh..hah..kamu nakal shel, kamu bikin kakak horny", ucap kakak ku dengan tersenyum.  jujur, kamu dah pernah kan ngrasain kayak gini?,Tanya kak bram, aku hanya tersipu lalu mengangguk.

"kamu masih virgin?", kali ini aku menggeleng pelan, agak takut juga rasanya seperti sedang di interogasi olah kak bram. "sama sapa kamu nglakuinnya shel?, "emm,sambil aku berfikir bagaimana aku menjawabnya. "Dana? Andri? Arya?"kakak ku menyebutkan nama mantan ku yang dia ketahui.

Aku menunduk lalu berkata"iya.., mereka semua?" kak bram kliatan kaget.

"nakal ya adek kakak ternyata, kecil-kecil maenannya dah kayak gini kata kakak ku dengan sedikit tersenyum, rupanya kak bram sama sekali tidak marah.

Aku menjadi lega melihat kakak ku tersenyum dan ku balas dengan senyuman manis ku.

"ayo sekarang kakak pengen tau shelly dah bisa apa aja, sepongin titit kakak" suruh kak bram sambil memelorotkan boxer nya.

Aku terkagum melihat penis kakak ku sedekat ini, ternyata bener-bener besar dan berurat. Tangan kak bram mendorong kepalaku menuju penisnya, aku hanya menurut saja.

Ku kocok pelan penis kak bram sambil ku emut kepala penisnya."ahhh..",lagi kak bram mendongak kan kepalanya sambil mengerang. Kepalaku di dorong-dorongkan pelan sehingga terlihat aku sedang mengocok penis nya menggunakan mulutku.

"manteb banget shel, ahhh" bibir mu yang mungil pas banget ma titit kakak, memang benar mulutku seperti terisi penuh dengan penis kakak ku ini. Sekitar 10 menit kita dalam posisi seperti ini, "uhh" kakak pingin banget nyemprotin sperma kakak ke mulut kamu. aku mengerti maksud nya, tanpa dituntun lagi aku menggerakkan kepalaku makin cepat tidak lupa kedua tangan ku meremas-remas batang penis dan buah zakar kakakku.

"ah.ahh gila kamu pinter shel, ahh terusin", erang kakakku. Tidak sampai 5 menit aku merasakan penis kakak ku seperti membesar dan semakin hangat, aku tau kak bram pasti sudah hampir orgasme,"ahh.. aghh", erang kak bram semakin menjadi, tangan nya kini sudah sibuk meremas, memeras, dan menarik payudaraku, aku sampai menyerngit menahan sakit di daerah itu.

"aku keluar shel! Ahhh.., crot..crottt, aku merasakan sperma kak bram menyembur beberapa kali di dalam mulutku, penis nya berdenyut cepat seperti memeras isinya sampai habis.

Aku terdiam sebentar dalam posisi ini, membiarkan kakak ku selesai menumpahkan spermanya di dalam mulutku, "eng..", pipiku mengembung karena banyak nya sperma yang keluar, sebagian malah tertelan oleh ku.

Merasa sudah selesai aku lepaskan penis kak bram dari mulutku, namun baru sampai kepala penisnya kak bram menekan kepala ku kuat-kuat sehingga penisnya terbenam di mulutku hampir semuanya. Sperma yang ada di mulutku rasanya seperti di pompa dan akhirnya sebagian besar tertelan dan sebagian lagi luber menetes dari mulut ku.

"EENG", aku mencoba berteriak dan meronta karena penis kak bram masuk di mulutku menyentuh tenggorokan ku dan membuat aku sulit bernafas.

"ahh..aghh..hahh", aku bernafas dalam-dalam karena akhirnya kak bram menarik kepala ku melepaskan penisnya. "uhuk..hahh.hah.haah", beberapa detik aku seperti merasakan sesak nafas.

"enak banget mulut mu shel, ha..ha..ha, kakak ku tertawa puas, "kak bram jahat, uhuk"kataku masih merasakan sperma kakak ku yang lengket di tenggorokan ku.

Kak bram sedikit beranjak mengangkangkan kakinya di atas ku yang terlentang di ranjang, penisnya tepat berada di atas wajah ku. "bersihin shel" suruh kakak ku yang kuturuti dengan menjilat sisa sperma yang ada di penisnya, ku sedot-sedot lubang penis nya sampai benar-benar bersih.

Setelah itu kak bram ngeloyor ke kamar mandi, aku yang masih horny melepaskan semua pakaian ku dan menunggu kak bram dengan keadaan telanjang.

Gak lama kak bram keluar kamar mandi berlilitkan handuk, aku yang sudah tidak sabar mendekati kak bram lalu memeluknya dari belakang. "ayo kak kita ML", kataku, "nanti aja deh shel, titit kakak masih lemes", "aku kan belum keluar kak, kakak enak dah keluar duluan", ucap ku protes.

"gini deh, kakak mau kamu seharian ini harus telanjang di dalem rumah, nanti kalo kakak horny, kakak bakal ngentotin kamu", kata kak bram. "emm..oke deh", aku mengiyakan permintaan kak bram lalu kami berciuman.

"udah sana kamu masak dulu", suruh kakak ku. "plokk", kak bram menampar pantat ku saat aku hendak keluar kamarnya. "duhh,sakit tau!", "wekk", kak bram malah memelet kan lidahnya.

Jadilah aku masak di dapur dengan keadaan bugil, semua jendela sudah ku tutup agar tidak terlihat dari luar jika aku nanti keluyuran dalam rumah. Kak bram kulihat keluar kamar namun tidak memperdulikan ku dan menuju ruang tv.

Selesai masak sekitar jam 12 aku menghampiri kak bram sedang nonton dvd sambil utak atik hp nya.

Aku duduk sebelah kakak ku lalu menyandar kan kepala ku di pahanya. "masih horny shel?", tangan kakak ku menuju ke memek ku dan di elus-elus belahannya. "ahhh..ssshh..", aku hanya mendesah pelan. lalu aku bangkit dan kamipun berciuman mesra, tangan ku masuk ke celana kak bram meremasi penisnya yang mulai tegang.

Kak bram melepaskan satu persatu pakaiannya hingga kami sama-sama telanjang, tubuh ku di angkat ke pangkuannya berhadapan. Ku gesek-gesekan penis kak bram ke belahan memek ku, di tariknya pantat ku pelan hingga penisnya masuk perlahan ke memek ku.

"ehmmmm..", suara ku menahan gesekan di dalam memek ku yang sangat sesak. Kak bram menarik dan mendorong pantat ku bergantian, membuat penisnya makin lama makin dalam memasuki memek sempitku, dan" blesss" akhirnya penis kakak ku behasil masuk semua, "oughhhhh", aku melenguh melepas ciuman kami.

"enak shel?", aku tidak menjawab tetapi pantat ku mulai ku goyang kan maju mundur pelan namun konstan. Semakin lama kupercepat goyangan ku dibantu kak bram. "ahh.. ohh.." hanya itu yang keluar dari mulut kita berdua, aku sendiri sangat menikmati sensasi melakukan seks dengan kakak ku sendiri, kak bram kulihat mendesah-desah sambil menutup kedua matanya.

10 menit berlalu kak bram minta ganti posisi dan tempat, aku di gendong menuju ruang tamu. Aku diminta menungging menghadap sofa dan mulailah kak bram melakukan penetrasi dengan posisi doggy. Kedua tangannya memeluk payudara ku yang menggantung, sedang penisnya tidak henti menggenjot memekku.

Sensasi yang ku rasakan jauh lebih nikmat, aku memang sangat menyukai posisi doggy style saat melakukan seks. Kini cairan memek ku makin banyak keluar membuat penis kak bram lebih mudah mengobek-obek di dalam nya. Tubuh ku semakin memanas, kringat ku bercucuran, di bagian memek ku aku merasakan desakan yang semakin kuat. Rasanya sangat gatal dan agak berkedut-kedut.

"ohh..kak, aku mau keluar, emmm", kataku,"tahan shel, dikit lagi.. aaghhh". Kak bram semakin cepat menggenjot memek ku. Namun belum sepat aku orgasme kakakku melepas penisnya dan mendorong ku terduduk di sofa. "emutin!", aku yang sebetulnya ingin protes tidak bisa berkata-kata karena penis kak bram mendesak masuk mulutku, terpaksa aku kulum penis kakak ku dan akhirnya Croot crot..crot! sekali lagi sperma kak bram tumpah didalam mulutku.

"ahhh enak banget..ouhh ,kakak ku melenguh , kutelan semua sperma yang keluar, "slruuuppps.", ku sedot sampai habis dan penis nya keluar dari mulutku.

"huahh,mantab shel, kamu doyan peju ternyata"ha.ha.ha, kak bram tertawa namun aku memasang wajah kecewa. "masuk!" kakak ku agak berteriak, lalu Ceklek! Pintu ruang tamu terbuka. Aku kaget dan hendak lari ke kamar tapi kak bram menahan ku, ku lihat siapa yang ada di luar, ternyata itu adalah kak indra teman kakak ku satu kampus yang sering main ke rumah.

"loh kak indra, ahh kakak lepasin" aku meronta karena kakak ku memegang tanganku menahan hingga aku tidak bisa bangkit dari sofa. "wahhh bro, ternyata lu kayak gini ya ma adek lu". Ha.ha.ha ucap kak indra. junggle rummy

"ha.ha.ha nih kata nya lu naksir ma adek gua, daripada adek gua pacaran ma cowok gak jelas mending ama lu aja","udah gua test manteb banget, langsung bisa lu pake ha.ha.ha, imbuh kak bram.

"apaan sih kak!, aku mulai marah dan juga malu, nurut aja deh ma kakak, si indra dah lama naksir ma kamu, tapi gak gini caranya!, aku semakin marah. kak indra menutup pintu dan mendekati kami di sofa, "tenang aja shel, aku sayang kok sama kamu, aku gak masalah biarpun kamu udah gak virgin dan kamu nglakuin kayak gini sama kakak mu, ucap kak indra. Aku agak tersipu mendengarnya. Ku akui kak indra memang lumayan cakep dan badannya juga bagus, terlihat lekukan lengannya yang sedikit kekar namun proporsional. "tapi gak kayak gini kak caranya, aku gak suka", kataku namun kini nadaku sudah tidak marah. he em, I'm sorry, kak indra mengecup bibirku dengan lembut, aku sangat menikmatinya, beda dengan kakak ku yang cenderung kasar dan liar saat berciuman.

Melihat aku sudah stabil, kak bram melepas pegangannya di tanganku dan meninggalkan aku dan kak indra di ruang tamu. Nafsu ku yang belum tersalurkan ditambah nikmat nya ciuman kak indra membuat ku semakin terbuai. Ku tarik kak indra menindih ku di atas sofa sambil bibir kami terus saling beradu.

"Ehmm, kak,,mmm", desahku.

Tangan kak indra bergerak melepas celana nya, kurasakan penis nya menggesek-gesek di paha mulus ku. Ku genggam penis kak indra lalu ku gerakkan tangan ku mengocok pelan, "besar jg nih..",pikirku.

"aku masukin ya shel?", Tanya kak indra, "iya kak", balasku tersenyum.

Perlahan kak indra mengangkat kedua kaki ku, di arahkan penis nya menuju lubang memek ku dan perlahan muali mendesak masuk.

"aghh", semakin dalam penis kak indra masuk rasanya semakin nikmat, ku rasa mungkin sedikit lebih besar dari penis kakak ku. bless slep..slep , kak indra mulai menggenjot ku, "oohhh pelan kak, desah ku menahan nikmat.

"oughh"kamu dah sering beginian shel?", "iya kak.", aku mengangguk, "ehmm...enak banget memek mu", kini tangan kak indra mulai aktif meremasi payudara ku.

Aku mulai merasakan kalau akan keluar, "ahh.. kak, shelly dah mau keluar, "kok cepet shel? lum puas ya tadi sama kakak mu..", "ahh..ahh", aku tidak menjawab namun tangan ku meremas kuat paha kak indra. Kak indra pun mengerti dan memepercepat genjotan penis nya di memek ku.

"oohh.. kak, oughh..". "arghh ayo sayang siram kontol kakak.. uhh", semenit kemudian aku sudah tidak tahan lagi, cret..cret crreett! "aakhhh", jeritku disambut hentakan penis kak indra yang membuat orgasme ku sangat nikmat.

"fiuuuhh,"mantab shel, bnyk banget cairanmu yang keluar, aku hanya membalas dengan senyuman, rasanya agak susah untuk mengeluarkan suara karena nafas ku yang memburu.

"kamu mau istirahat dulu?", Tanya kak indra. "gpp kak, lanjutin aja" kembali kak indra menggenjot ku.

Tidak lama kak bram datang membawa minuman, "kamu minum dulu deh shel", kata kak indra, hmm ternyata kak indra bener-bener perhatian padaku, kata ku dalam hati.

Kak indra melepas penis nya dari memek ku lalu aku beranjak meminum minumanku. "hahh.. seger banget..", ku lihat kak indra juga menghabiskan minumannya seperti orang kehausan.

"yuk lanjut..", kata kak indra sambil tersenyum. Dengan posisi duduk membelakangi nya memek ku perlahan menelan habis penis kak indra.

"ahhh.. ohh..", desah kami bersautan.

Rasanya sedikit aneh, ML sambil di liatin oleh kakak ku, namun aku tidak sedikit pun menoleh ke arahnya karena masih ada rasa kesal.

"aahh agh", desah ku tiap kali penis kak indra menghentak dinding vagina ku, sedangkan kak indra sesekali mendesah dan terkadang ngobrol dengan kakak ku.

10 menit dalam posisi ini aku bilang kalau aku mau keluar lagi, "aghh.. iya kakak juga shel, kita kluarin ohhh, bareng, tangan nya meremas kuat payudara ku lalu tubuhku di hentak-hentak kan naik turun. "gila uhh nikmat banget", kataku dalam hati.

"oughhh" kontol kakak udah gak kuat shel, "ahh..shelly juga", semakin keras genjotan kak indra, penis nya juga kurasakan mengeras dan hangat di dalam memek ku.

"shelly"arghh!! crot..crot crroott!!, "ahh..", desah ku mengiringi nikmat nya orgasme kita berdua. Crot..! semburan terakhir sperma kak indra seakan membuat ku melayang, aku tak memperdulikan tangan nya yang mencengkram kuat payudara ku selama orgasme.

Aku benar-benar puas, tidak kusangka ulah iseng ku untuk menggoda kakak ku sendiri berakhir nikmat seperti ini. Hari itu kak indra menginap di rumah ku, kami melakukan ML beberapa kali, sedangkan kak bram juga mengajak pacarnya menginap di rumah,

Aku tidak tau peristiwa apalagi yang akan terjadi setelah ini, yang jelas kini aku dan kak indra sudah resmi pacaran. CROWN VN



SKRIPSI BRENDA

  CROWN GAMES JACKPOT GAMES - Brenda sekarang sedang menuju ke Kantin Korea FISIP UI untuk bimbingan skripsinya bersama dosen PS (Pembimbing...